HUGO: Film Fantasi Ilmiah atau Drama

Mulanya saya sungguh tertarik dengan film ini karena melihat trailer dan poster Hugo yang memiliki kisah fantasi tersendiri. Ditambah rating diweb imdb yang termasuk sangat bagus. Serta memenangkan beberapa piala Oscar 2012. Beberapa review pun mengatakan film ini sangat dinikmati ketika disaksikan dalam format 3D. Film 3D yang menarik biasanya adalah film animasi dan film fantasi. Jadilah dalam bayanganku film Hugo seperti ini: Seorang bocah yang hidupnya menggelandang distasiun kereta api akhirnya menemukan kehidupan yang lebih baik setelah berhasil merakit dan menghidupkan sebuah robot. Berteman dengan seorang anak gadis mereka bertiga akhirnya berpetualang entah kemana dan apa saja yang terjadi masih menjadi misteri, akhirnya sang bocah terdampar dan bergelantungan disebuah jam. Full fantasy. Interesting isn’t it?

Pada saat menyaksikan film 3Dnya: Menit-menit awal film ini sudah sangat memukau. Salju yang turun diataas kota Paris begitu terasa. Seorang bocah berlarian dilorong-lorong ruang stasiun. Sangat nyata. Wah keren nih. Banyak kejadian yang menimpa sang tokoh maupun tokoh-tokoh lainnya yang beraktifitas didalam stasiun. Cerita dramanya masih terasa, fantasinya belum.

Cerita fantasi mulai mengambil bagian dijalan cerita ketika sang bocah terus berusaha memperbaiki robot warisan ayahnya. Akhirnya Robot tersebut bisa bergerak dan menulis bahkan menggambar. Wait what, namun melihat pergerakan robot yang memiliki kemampuan terbatas, itu bener-bener robot yang bisa dibuat, bukan robot ajaib cerita fantasi yang menyebabkan mereka bisa berpetualang.

1jam sudah pengembangan cerita tidak kearah petualangan mereka. 1jam 30 menit, kok mereka belum pergi-pergi juga berpetualang. Hiks.. 2jam sudah ternyata memang mereka tidak berpetualang bersama. Yang ada malah karakter atau tokoh lain yang dikembangkan jalan ceritanya. Hiks gue ga suka melo drama, sukanya menikmati fantasi ilmiah.

Namun walaupun jauh dari bayangan dan harapan, film ini cukup menghibur dan mengesankan dibeberapa sisi.

  • Pertama, artistik dan sinematografi yang memukau.
  • Kedua, mendokumenterkan awal perfilman dan jatuh bangunnya industri perfilman tempo dulu.
  • Ketiga, baca buku lebih bermanfaat ketimbang menonton film.
  • Keempat, bocah bernama Hugo merupakan seorang bocah yang berpikiran dewasa, tampak pada pernyataan-pernyataan dan kesungguhannya memperbaiki sesuatu maupun ‘memperbaiki’ seseorang.

Quote oke dari film ini:

Coba bayangkan kota ini (paris) dan kota2 lainnya diseluruh dunia seperti sebuah mesin, maka setiap komponen/bagian pasti memiliki fungsi/tujuan tertentu. Orang yang tanpa tujuan seperti komponen rusak. Komponen rusak semestinya diganti atau diperbaiki.

Sumber photo: http://www.imdb.com

Categories: Film | Tags: , , | Leave a comment

Post navigation

Tinggalkan Jejakmu berupa komen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: